Tahun 2008 berlalu dengan rasa syukur yang sulit dijelaskan.
Ada banyak perjalanan. Banyak tawa. Banyak langkah kaki yang menemukan kebahagiaannya sendiri di alam bebas. Gunung, jalur setapak, dan dingin malam perlahan berubah menjadi candu.
Memasuki 2009, satu keinginan terus terbayang di kepala:
melanjutkan perjalanan.
Walau pekerjaan, kesibukan, dan berbagai halangan mulai berdatangan, rasa rindu pada gunung tetap lebih kuat.
Kebetulan awal tahun itu bertepatan dengan bulan Suro dalam kalender Jawa. Sebuah waktu yang terasa sakral. Pikiran langsung melayang ke satu nama:
Gunung Lawu.
Gunung di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur itu seolah memanggil.
Alasannya sederhana.
Saat bulan Suro, Lawu ramai oleh peziarah dan pedagang yang membuka warung hingga ketinggian. Artinya satu hal penting bagi pendaki: beban carrier bisa lebih ringan.
Rencana pun dimulai.
Awalnya ingin perjalanan kecil.
Silent trip.
Sedikit orang. Mudah koordinasi.
“Siapa ya yang diajak…?”
Obrolan sana-sini dimulai. Ada teman dari Jakarta yang hampir ikut… hampir. Tapi akhirnya batal. Jadwal dipatok minggu kedua Januari. Empat orang rasanya cukup.
Namun seperti biasa… rencana pendaki jarang berjalan sederhana.
Iseng membuka thread di forum komunitas.
Niatnya hanya menambah dua orang.
Yang terjadi justru sebaliknya.
Peserta bermunculan.
“Lha kok malah jadi rame begini…” gumamku sambil tertawa kecil.
Perjalanan yang tadinya sunyi berubah menjadi ekspedisi setengah resmi.
Masalah baru muncul: peralatan.
Carrier ada. Niat ada.
Tapi kompor? Tenda? Perlengkapan lain?
Untungnya selalu ada kawan baik.
Mas Dziel, Mas Krupuk, Mbak Ranting, dan Mas Candra meminjamkan perlengkapan mereka. Bahkan kompor gas Mbak Ranting terlihat terlalu baru untuk dipakai perjalanan basah seperti ini.
Dalam hati cuma bisa berdoa:
Semoga pulangnya masih utuh…
Peserta dari Jawa Timur awalnya hampir sepuluh orang. Rencana dibuat: berkumpul di Trenggalek lalu berangkat bersama ke Tawangmangu.
Karena ada beberapa peserta perempuan, aku mengajak teman rumah sebagai tim bantuan — semi porter, istilah kasarnya.
Mobil kapasitas lima belas orang pun disewa.
Tapi semakin hari mendekati keberangkatan… satu per satu peserta mundur.
Alasan klasik: pekerjaan.
Akhirnya mobil dibatalkan. Tim dirampingkan.
Setelah dua kali conference yang setengah hadir setengah hilang, terbentuklah tim inti:
Tarzan.
Pute.
Aal.
Ivan.
Liar.
Arif.
Pak Dadi.
Erwin.
Disusul dua nama tambahan: Dwee dan Tyas.
Kami datang dari kota masing-masing, bertemu di Tawangmangu, seperti potongan cerita yang akhirnya menyatu.
Hari Pertama — Lawu Menyambut
Sabtu pagi, 10 Januari 2009.
Udara dingin menyelimuti basecamp. Tim Jawa Timur masih terlelap ketika pemilik rumah hampir saja membuat jantung copot.
“Gunung Lawu meletus! Lari!”
Tentu saja itu cuma bercanda.
Ternyata teman-teman sudah menunggu di depan GOR. Satu per satu wajah lama muncul. Tawa langsung pecah. Tidak ada canggung. Seolah kami baru kemarin bertemu.
Hujan turun sejak siang.
Tepat pukul 15.00, dari Pos Cemorosewu, perjalanan dimulai.
Langkah pertama selalu terasa ringan. Candaan bersahutan. Lagu dinyanyikan. Nafas belum terasa berat.
Namun Lawu punya cara sendiri menyambut tamunya.
Gerimis berubah hujan.
Kabut turun perlahan.
Jalur batu mulai terasa panjang.
Pos demi pos dilewati.
Teh panas di Pos 1 terasa seperti hadiah dari langit.
Perjalanan menuju Pos 2 menjadi ujian sebenarnya. Jalur panjang, batu tanpa akhir, dan dingin yang menusuk.
Di tengah perjalanan, dua sosok muncul dari balik kabut.
Dwee… lalu Tyas.
Tambahan energi baru bagi tim.
Malam turun cepat. Aku berjalan lebih dulu membawa HT, mencoba memastikan tim tetap terhubung. Saat radio dinyalakan, frekuensi yang tertangkap justru orang curhat minta cerai.
Lawu memang selalu punya kejutan.
Pukul 20.50 akhirnya kami tiba di Pos 3.
Tenda sudah berdiri.
Mie panas mengepul.
Dan anehnya… setiap kami tiba di pos, hujan deras baru turun setelahnya.
Seolah gunung memberi toleransi kecil.
Malam itu kami tidur ditemani dingin dan rasa syukur.
Hari Kedua — Kabut dan Harapan
Pagi datang tanpa matahari.
Kabut.
Lagi.
“Ini bukan menyapa kabut… ini ketemu kabut tiap lima menit,” keluh Dwee sambil tertawa.
Perjalanan dilanjutkan menuju Sumur Jolotundo. Dan akhirnya… harapan muncul.
Matahari.
Cahaya hangat menerobos awan.
Semua berhenti berjalan. Bukan karena lelah, tapi karena terlalu lama menikmati pemandangan.
Di Hargo Dalem, warung legendaris Mbok Yem menyambut kami. Soto ayam panas di ketinggian tiga ribu meter terasa seperti makanan terbaik di dunia.
Sebagian tim menuju puncak.
Sebagian menunggu.
Gunung Lawu tak hanya menawarkan pemandangan, tapi juga aura mistis yang sulit dijelaskan. Malam itu kami bermalam di pendopo kasunanan. Angin meraung. Dingin menusuk tulang.
Dan di tengah malam… aku sempat merasa jumlah orang di ruangan berubah.
Entah ilusi.
Entah Lawu sedang bercanda.
Aku memilih kembali masuk sleeping bag.
Lebih aman begitu.
Hari Ketiga — Pulang
Senin pagi cerah.
Beberapa teman melakukan summit attack ulang. Yang lain memilih menikmati tidur terakhir di ketinggian.
Pukul 08.30 kami mulai turun.
Langkah terasa ringan. Gunung selalu membuat perjalanan turun terasa berbeda — ada lega, ada rindu yang mulai tumbuh bahkan sebelum benar-benar meninggalkan jalur.
Pukul 13.00 kami kembali ke Cemorosewu.
Sujud syukur menjadi penutup perjalanan.
Semua selamat.
Semua membawa cerita.
Di basecamp, kejutan terakhir muncul.
Aal — yang katanya sudah pulang ke Jakarta — tiba-tiba datang lagi.
Tawa kembali pecah.
Seperti perjalanan ini belum benar-benar ingin berakhir.
Epilog
Menyapa Kabut Lawu 2009 bukan sekadar pendakian.
Ia adalah tentang persahabatan yang lahir tanpa syarat. Tentang orang-orang yang mungkin jarang bertemu, tetapi selalu terasa dekat ketika berjalan di jalur yang sama.
Gunung mengajarkan banyak hal.
Tentang sabar.
Tentang percaya.
Tentang pulang.
Dan tentang satu kenyataan sederhana:
Tidak semua pendaki adalah penipu.



0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih atas komentar yang temen-teman berikan, semoga bermanfaat bagi kita bersama. Salam dari Gappala