Latest Article Get our latest posts by subscribing this site

LATIMOJONG INDONESIA SUMMIT TEAM 2009 - Ai

 


FINAL REPORT

LATIMOJONG INDONESIA SUMMIT TEAM 2009

Acara bertema “Indonesia Summit Team” merupakan kegiatan utama tahunan milis Gappala (www.gappala.com). Kegiatan ini menjadi pelaksanaan kedua setelah sebelumnya sukses diselenggarakan pada tahun 2008 di Gunung Rinjani (3724 mdpl) dengan label “Rinjani Indonesia Summit Team 2008.”

Latimojong Indonesia Summit Team 2009 (LIST 2009) merupakan tahap lanjutan dari proyek utama “Cartensz Pyramid Indonesia Summit Team” yang direncanakan berlangsung pada tahun 2011–2012. Oleh karena itu, dalam kegiatan ini mulai diterapkan berbagai teknik lanjutan pendakian, meliputi:

  • Manajemen kalori

  • Komunikasi tim

  • Navigasi

  • Aklimatisasi

Seluruh metode tersebut diaplikasikan secara bertahap sebagai persiapan ekspedisi besar mendatang.


KEBERANGKATAN

Pagi hari Kamis, 11 Juni 2009, suasana basecamp Makassar terasa berbeda dengan bergabungnya satu personel perempuan baru yang tiba malam sebelumnya. Setelah sesi silaturahmi dan perkenalan, beberapa anggota melakukan pembelian logistik kegiatan LIST 2009.

Selepas makan siang, seluruh logistik diinventarisasi, diberi penamaan, serta diklasifikasikan sesuai menu konsumsi yang telah dirancang panitia.

Sore hari, rekan-rekan dari STIEM Mapaodang Makassar berkunjung ke basecamp. Salah satu sesepuh mereka juga merupakan anggota Gappala, sehingga suasana terasa hangat dan akrab. Mereka bahkan menawarkan bantuan teknis, meskipun seluruh kebutuhan kegiatan telah dipersiapkan dengan baik oleh panitia.

Sekitar pukul 18.00 WITA, tujuh anggota tim berangkat menuju Bandara Hasanuddin untuk menjemput tiga anggota lainnya dari Jakarta. Karena keterlambatan penerbangan, tim lengkap baru berkumpul sekitar pukul 23.00 WITA sebelum melanjutkan perjalanan menuju Enrekang – Baraka – Pasui dengan jarak sekitar 300 km.


PASUI – WAI-WAI

Tim yang berjumlah 10 orang memulai perjalanan tengah malam. Pada Jumat pagi, 12 Juni 2009, tim tiba di Pasui.

Karena bukan hari pasar, transportasi lokal tidak tersedia. Setelah berkoordinasi dengan warga setempat, diputuskan perjalanan dilakukan dengan berjalan kaki menuju Dusun Karangan melalui jalur lintas desa:

Pasui → Buntu Batu → Buntu Langda → Duri → Potokulin → Matawai → Buntulenta → Kalaciri → Wai-wai.

Perjalanan dimulai pukul 08.00 pagi dan baru mencapai Dusun Wai-wai pada malam hari setelah berjalan lebih dari 12 jam dalam kondisi panas, dehidrasi, dan medan berat.

Tim bermalam di rumah Kepala Dusun Wai-wai, Bapak Sigama.


WAI-WAI – KARANGAN

Sabtu, 13 Juni 2009 perjalanan dilanjutkan menuju Dusun Karangan sebagai titik awal pendakian Gunung Latimojong.

Medan hari kedua lebih bersahabat. Setelah melewati Rantelemo, Karowaja, dan Buntu Lambak, tim tiba di Karangan sekitar pukul 16.00 WITA.

Total perjalanan kaki dua hari mencapai 44 kilometer.


PENDAKIAN GUNUNG LATIMOJONG

Pendakian resmi dimulai Minggu, 14 Juni 2009 pukul 07.00 pagi dengan tambahan dua personel lokal beserta seekor anjing pendamping.

Karena energi telah banyak terkuras sebelumnya, tim menerapkan strategi manajemen kalori dan pola istirahat terprogram. Estimasi energi yang telah dikeluarkan setiap anggota mencapai lebih dari 6000 kalori.

Tim dibagi menjadi tiga kelompok:

  • Team Advance – kecepatan tinggi

  • Team Runner – kecepatan menengah

  • Team Sweeper – pengaman belakang

Strategi ini terbukti efektif dalam menjaga ritme perjalanan.


Camp 1 – Pos 7

Medan semakin teknikal dengan kemiringan ekstrem hingga mendekati 90°. Tim tiba di Camp 1 (Pos 7) malam hari dalam kondisi angin sangat kencang di pertemuan dua lembah.

Malam ini menjadi salah satu kondisi paling ekstrem selama ekspedisi, mengingatkan pengalaman badai di Pelawangan 2 Gunung Rinjani pada RIST 2008.


SUMMIT ATTACK – RANTEMARIO

Senin, 15 Juni 2009 tim dibagi dua:

  • Team Puncak (Summiter)

  • Team Camp (Support & Logistik)

Sekitar pukul 09.00 pagi, Team Puncak berhasil mencapai Puncak Rantemario (3447 mdpl).

Keputusan pembagian tim menjadi bukti nyata esensi teamwork, di mana kepentingan tim berada di atas kepentingan pribadi.


MENUJU GUNUNG BUNDERANGKANG

Perjalanan dilanjutkan menuju punggungan Gunung Bunderangkang. Tim sempat kehilangan orientasi akibat pembukaan jalur baru serta terpisahnya sebagian anggota.

Melalui koordinasi ulang, seluruh anggota berhasil regroup dan kembali bersatu.

Dalam perjalanan menuju Camp 2 di kaki Gunung Nenenmori, tim bahkan berpapasan langsung dengan anoa hitam di lembah pegunungan.


PUNCAK NENEMORI & TURUN EKSTREM

Selasa, 16 Juni 2009, seluruh anggota berhasil mencapai Puncak Nenemori.

Perjalanan turun menjadi bagian paling menantang ekspedisi:

  • Tebing vertikal

  • Jurang 20–30 meter

  • Jalur pemburu tradisional

  • Medan hutan perawan

Beberapa anggota mengalami jatuh ringan, namun berkat kerja sama tim, seluruh personel berhasil mencapai ladang kopi dan kembali ke Dusun Karangan dengan selamat pukul 17.00 WITA.


KARANGAN – BARAKA – MAKASSAR

Rabu, 17 Juni 2009 perjalanan pulang dimulai.

Logistik diangkut menggunakan kuda sehingga perjalanan terasa ringan. Tim kemudian menuju Baraka menggunakan truk lokal, menikmati kuliner khas setempat seperti:

  • Bakso Baraka

  • Durian khas Baraka

  • Sop Konro

  • Nasu Pallako

Perjalanan panjang berakhir Kamis dini hari, 18 Juni 2009, saat tim tiba kembali di Basecamp Compazt Makassar.


PENUTUP KEGIATAN

Hari terakhir diisi kegiatan santai:

  • Wisata kuliner Makassar

  • Silaturahmi komunitas

  • Sunset Pantai Losari

  • Coto Makassar

  • Pisang Epe sebagai hidangan penutup


KESIMPULAN

Latimojong Indonesia Summit Team 2009 memberikan:

  • pengalaman teknis pendakian lanjutan

  • pembelajaran teamwork

  • manajemen ekspedisi skala besar

  • persiapan menuju proyek utama mendatang

Banyak cerita, pengalaman, kekurangan, dan pembelajaran menjadi bagian penting dari perjalanan ini.

Sampai bertemu pada event berikutnya:

Kerinci Indonesia Summit Team 2010

Terima kasih.

Baksos Ramadhan — Ketika Persahabatan Tidak Hanya Tentang Gunung (2008) - Ai

 

Baksos Ramadhan — Ketika Persahabatan Tidak Hanya Tentang Gunung

(Agustus – September 2008)

 


 

Bismillah.

Agustus 2008.

“Ding!”

Suara kecil dari komputer tua di pojok kamar langsung bikin refleks menoleh.
Bagi pengguna setia Yahoo! Messenger, bunyi itu punya arti penting:

Ada pesan masuk.

Dan kalau tidak segera dibaca… biasanya akan terjadi sesuatu yang katanya tidak diinginkan. Entah apa itu. Mungkin cuma perasaan bersalah saja.

Kubuka layar.

“Oh… undangan conference anak-anak Gappala.”

Tanpa banyak basa-basi, langsung join.

Nama-nama mulai muncul satu per satu. Wajah lama. ID lama. Nickname yang lebih terkenal daripada nama asli pemiliknya.

Ah… tidak usah disebutkan satu-satu.
Nanti pada ge-er lagi kalau tahu namanya masuk catatan perjalanan ini.

Conference pun berjalan seperti biasa:

“bak buk plentang plentong…”

Entah bahasa apa yang dipakai saat itu.
Campur aduk antara serius, bercanda, OOT, dan ketawa tanpa sebab.

Singkat cerita…

Biasanya obrolan Gappala itu isinya:

👉 Kopdar
👉 Naik gunung
👉 Jalan-jalan

Semua sudah biasa.

Tapi kali ini…

Ada yang berbeda.

Gappala.or.id mau mengadakan Baksos di bulan Ramadhan.

Nah ini baru luar biasa.


🌙 Ide yang Berubah Menjadi Gerakan

Awalnya cuma obrolan conference.
Tapi seperti biasa, komunitas ini punya satu kebiasaan:

Kalau sudah niat baik… langsung jalan.

Pengumuman dipasang di forum.

Kegiatan Bakti Sosial Gappala.or.id — Ramadhan 2008

Karena lokasinya di Jakarta, otomatis panitia kecil diisi teman-teman Gappala Jakarta. Tapi dukungan datang dari mana-mana — Jawa, Sumatera, Bali, Kalimantan, Sulawesi.

Semua ikut bergerak.

Tim survey mulai keliling mencari panti asuhan.

Laporan berdatangan:
ada yang survei sini, ada yang survei sana, ada yang rekomendasi ini, ada yang usul itu.

Akhirnya, setelah diskusi panjang — bukan undian arisan tentunya — dipilihlah:

Panti Asuhan Alfiani
Jl. Pepaya III No.1
Cengkareng — Jakarta Barat.

Dari situlah semuanya benar-benar dimulai.


🤝 Saweran Persahabatan

Informasi disebar ke seluruh member.

Tidak ada paksaan.
Tidak ada target nominal.

Seribu rupiah. Dua ribu rupiah.
Yang penting ikhlas.

Dan perlahan…

Transfer pertama masuk.

Rasanya luar biasa.

Bukan karena jumlahnya.
Tapi karena ada orang-orang yang peduli.

Donasi terus berdatangan:
uang, kue, majalah, alat tulis, tempat pensil.

Satu demi satu bukti bahwa komunitas ini bukan cuma soal petualangan… tapi juga soal hati.


🏠 Malam Persiapan

Sabtu malam, 13 September 2008.

Buka puasa bersama di kantin belakang Pasfes — markas tidak resmi anak-anak Gappala Jakarta.

Teman-teman dari Bandung datang.
Koordinasi final dilakukan.

Sekitar pukul delapan malam, rombongan bergerak menuju rumahku. Tempat sederhana di ujung Jakarta yang rasanya bahkan tidak tercantum di peta.

Malam itu penuh aktivitas:

Ada yang melipat kardus.
Ada yang membungkus hadiah.
Ada yang bakar otak-otak.
Ada yang tidur.
Ada yang tidak bisa tidur.

Tidak ada panitia profesional.

Yang ada cuma teman-teman yang ingin berbagi.


🌙 Hari Berbagi

14 September 2008.

Semua persiapan selesai.

Makanan, minuman, buah, majalah, alat tulis — semuanya siap.

Sore hari kami berkumpul lagi di Pasfes sebelum berangkat menuju panti menggunakan mobil dan beberapa motor pengiring.

Maghrib tiba tepat saat kami sampai.

Langsung buka puasa bersama.

Menu sederhana:
bolu, risoles, pisang, dan air mineral.

Tapi suasananya hangat.

Anak-anak panti duduk rapi.
Pak Kosim sebagai pengurus menyambut dengan senyum.

Kami berbincang, memperkenalkan Gappala, bercerita tentang kegiatan komunitas, tentang persahabatan, tentang mimpi.

Sebagian anak-anak belum mengenal dunia petualangan.
Usia mereka masih SD dan SMP.

Namun malam itu bukan soal gunung.

Bukan soal perjalanan.

Melainkan tentang berbagi kebahagiaan.

Sekitar pukul 19.30 acara selesai.

Kami pulang dengan hati penuh.


☕ Malam Penutup

Di Pasfes, diskusi panjang kembali terjadi.

Tentang komunitas.
Tentang masa depan.
Tentang kebersamaan.

Kesimpulannya sederhana:

Gappala.or.id bukan sekadar website.
Ia adalah rumah online bagi banyak persahabatan.


🙏 Terima Kasih

Terima kasih kepada Allah SWT yang telah memberi kesempatan untuk berbagi.

Untuk semua panitia, relawan, donatur, dan teman-teman Gappala di seluruh Indonesia yang mendukung lewat tenaga, materi, doa, dan semangat.

Untuk teman-teman di Panti Asuhan Alfiani yang telah memberi kami kesempatan belajar arti berbagi.

Dan maaf jika ada nama yang terlewat…

bukan lupa sengaja,
hanya hati ini terlalu penuh oleh kenangan.


Karena pada akhirnya kami sadar:

Petualang sejati bukan hanya mereka yang menaklukkan gunung…

tetapi mereka yang masih punya hati untuk berbagi.

Menyapa Kabut Lawu — Januari 2009 - Ai

 


Tahun 2008 berlalu dengan rasa syukur yang sulit dijelaskan.

Ada banyak perjalanan. Banyak tawa. Banyak langkah kaki yang menemukan kebahagiaannya sendiri di alam bebas. Gunung, jalur setapak, dan dingin malam perlahan berubah menjadi candu.

Memasuki 2009, satu keinginan terus terbayang di kepala:
melanjutkan perjalanan.

Walau pekerjaan, kesibukan, dan berbagai halangan mulai berdatangan, rasa rindu pada gunung tetap lebih kuat.

Kebetulan awal tahun itu bertepatan dengan bulan Suro dalam kalender Jawa. Sebuah waktu yang terasa sakral. Pikiran langsung melayang ke satu nama:

Gunung Lawu.

Gunung di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur itu seolah memanggil.

Alasannya sederhana.
Saat bulan Suro, Lawu ramai oleh peziarah dan pedagang yang membuka warung hingga ketinggian. Artinya satu hal penting bagi pendaki: beban carrier bisa lebih ringan.

Rencana pun dimulai.


Awalnya ingin perjalanan kecil.
Silent trip.
Sedikit orang. Mudah koordinasi.

“Siapa ya yang diajak…?”

Obrolan sana-sini dimulai. Ada teman dari Jakarta yang hampir ikut… hampir. Tapi akhirnya batal. Jadwal dipatok minggu kedua Januari. Empat orang rasanya cukup.

Namun seperti biasa… rencana pendaki jarang berjalan sederhana.

Iseng membuka thread di forum komunitas.

Niatnya hanya menambah dua orang.

Yang terjadi justru sebaliknya.

Peserta bermunculan.

“Lha kok malah jadi rame begini…” gumamku sambil tertawa kecil.

Perjalanan yang tadinya sunyi berubah menjadi ekspedisi setengah resmi.

Masalah baru muncul: peralatan.

Carrier ada. Niat ada.
Tapi kompor? Tenda? Perlengkapan lain?

Untungnya selalu ada kawan baik.
Mas Dziel, Mas Krupuk, Mbak Ranting, dan Mas Candra meminjamkan perlengkapan mereka. Bahkan kompor gas Mbak Ranting terlihat terlalu baru untuk dipakai perjalanan basah seperti ini.

Dalam hati cuma bisa berdoa:
Semoga pulangnya masih utuh…


Peserta dari Jawa Timur awalnya hampir sepuluh orang. Rencana dibuat: berkumpul di Trenggalek lalu berangkat bersama ke Tawangmangu.

Karena ada beberapa peserta perempuan, aku mengajak teman rumah sebagai tim bantuan — semi porter, istilah kasarnya.

Mobil kapasitas lima belas orang pun disewa.

Tapi semakin hari mendekati keberangkatan… satu per satu peserta mundur.

Alasan klasik: pekerjaan.

Akhirnya mobil dibatalkan. Tim dirampingkan.

Setelah dua kali conference yang setengah hadir setengah hilang, terbentuklah tim inti:

Tarzan.
Pute.
Aal.
Ivan.
Liar.
Arif.
Pak Dadi.
Erwin.

Disusul dua nama tambahan: Dwee dan Tyas.

Kami datang dari kota masing-masing, bertemu di Tawangmangu, seperti potongan cerita yang akhirnya menyatu.


Hari Pertama — Lawu Menyambut

Sabtu pagi, 10 Januari 2009.

Udara dingin menyelimuti basecamp. Tim Jawa Timur masih terlelap ketika pemilik rumah hampir saja membuat jantung copot.

“Gunung Lawu meletus! Lari!”

Tentu saja itu cuma bercanda.

Ternyata teman-teman sudah menunggu di depan GOR. Satu per satu wajah lama muncul. Tawa langsung pecah. Tidak ada canggung. Seolah kami baru kemarin bertemu.

Hujan turun sejak siang.

Tepat pukul 15.00, dari Pos Cemorosewu, perjalanan dimulai.

Langkah pertama selalu terasa ringan. Candaan bersahutan. Lagu dinyanyikan. Nafas belum terasa berat.

Namun Lawu punya cara sendiri menyambut tamunya.

Gerimis berubah hujan.
Kabut turun perlahan.
Jalur batu mulai terasa panjang.

Pos demi pos dilewati.

Teh panas di Pos 1 terasa seperti hadiah dari langit.
Perjalanan menuju Pos 2 menjadi ujian sebenarnya. Jalur panjang, batu tanpa akhir, dan dingin yang menusuk.

Di tengah perjalanan, dua sosok muncul dari balik kabut.

Dwee… lalu Tyas.

Tambahan energi baru bagi tim.

Malam turun cepat. Aku berjalan lebih dulu membawa HT, mencoba memastikan tim tetap terhubung. Saat radio dinyalakan, frekuensi yang tertangkap justru orang curhat minta cerai.

Lawu memang selalu punya kejutan.

Pukul 20.50 akhirnya kami tiba di Pos 3.
Tenda sudah berdiri.
Mie panas mengepul.
Dan anehnya… setiap kami tiba di pos, hujan deras baru turun setelahnya.

Seolah gunung memberi toleransi kecil.

Malam itu kami tidur ditemani dingin dan rasa syukur.


Hari Kedua — Kabut dan Harapan

Pagi datang tanpa matahari.

Kabut.

Lagi.

“Ini bukan menyapa kabut… ini ketemu kabut tiap lima menit,” keluh Dwee sambil tertawa.

Perjalanan dilanjutkan menuju Sumur Jolotundo. Dan akhirnya… harapan muncul.

Matahari.

Cahaya hangat menerobos awan.

Semua berhenti berjalan. Bukan karena lelah, tapi karena terlalu lama menikmati pemandangan.

Di Hargo Dalem, warung legendaris Mbok Yem menyambut kami. Soto ayam panas di ketinggian tiga ribu meter terasa seperti makanan terbaik di dunia.

Sebagian tim menuju puncak.

Sebagian menunggu.

Gunung Lawu tak hanya menawarkan pemandangan, tapi juga aura mistis yang sulit dijelaskan. Malam itu kami bermalam di pendopo kasunanan. Angin meraung. Dingin menusuk tulang.

Dan di tengah malam… aku sempat merasa jumlah orang di ruangan berubah.

Entah ilusi.
Entah Lawu sedang bercanda.

Aku memilih kembali masuk sleeping bag.

Lebih aman begitu.


Hari Ketiga — Pulang

Senin pagi cerah.

Beberapa teman melakukan summit attack ulang. Yang lain memilih menikmati tidur terakhir di ketinggian.

Pukul 08.30 kami mulai turun.

Langkah terasa ringan. Gunung selalu membuat perjalanan turun terasa berbeda — ada lega, ada rindu yang mulai tumbuh bahkan sebelum benar-benar meninggalkan jalur.

Pukul 13.00 kami kembali ke Cemorosewu.

Sujud syukur menjadi penutup perjalanan.

Semua selamat.

Semua membawa cerita.


Di basecamp, kejutan terakhir muncul.

Aal — yang katanya sudah pulang ke Jakarta — tiba-tiba datang lagi.

Tawa kembali pecah.

Seperti perjalanan ini belum benar-benar ingin berakhir.


Epilog

Menyapa Kabut Lawu 2009 bukan sekadar pendakian.

Ia adalah tentang persahabatan yang lahir tanpa syarat. Tentang orang-orang yang mungkin jarang bertemu, tetapi selalu terasa dekat ketika berjalan di jalur yang sama.

Gunung mengajarkan banyak hal.

Tentang sabar.
Tentang percaya.
Tentang pulang.

Dan tentang satu kenyataan sederhana:

Tidak semua pendaki adalah penipu.

Komunitas Rakom Seputar Jabotabek

Dunia Rakom atau radio komunikasi menggunakan Rig atau HT di tunjang dengan fasilitas Repeater atau Pancar Ulang (RPU) menjadi komunikasi antar pengguna semakin baik.  Beberapa komunitas Rakom briker / ngebrik masih cukup di mininati baik mobile maupun di base station (rumah).
Beberapa komunitas Rakom ini teryata  masih bisa di jumpai di seputaran jabotabek dan di mininati pula oleh warga ibukota khususnya.  Kalau anda dijalan melihat kendaraan dengan antenna tinggi kemungkinan besar itu digunakan untuk rakom.  Ataupun di perumahan menggunakan antenna yg tinggi berjenih Telex atau helical.  
Bahkan kadang dapat kita temui pengedera roda dua dengan antenna juga memanfaatkan fasilitas rakom untuk saling berkomunikasi. Saya mencoba mengajak beberapa komunitas Rakom yg ada di Jabotabek antara lain :

Berpetualang Sambil Membangun Pertemanan

Tulisan ini dipublikasikan di Koran Seputar Indonesia
untuk Kolom Komunitas.

JIKA Anda hobi berpetualang,komunitas ini sanggup menuntaskan dahaga untuk berkeliling gunung,gua,sungai,dan menaklukkan tantangan alam lainnya. Tidak hanya itu,jutaan teman dengan hobi yang sama juga siap menebar rasa kebersamaan sebagai pelengkap sukaduka kehidupan. Banyak sekali komunitas petualang di dunia maya ataupun yang bersifat offline.Salah satunya adalah komunitas Gabungan Pencinta dan Penggiat Alam Terbuka(Gappala).


Sebenarnya, komunitas ini sudah terbentuk sejak 1991 yang dikomandani Yanweka dan empat orang kawannya. Hanya, kegiatan baru dilakukan sebatas pertemuan langsung. Di awal 2008,komunitas ini sempat terpecah menjadi dua, yaitu yang bersifat memberikan informasi saja (www.- gappala.or.id) dan komunitas (www.gappala.com). Hingga saat ini, Gappala masih aktif dengan anggota fanatik masing- masing.


Menyapa kabut lawu 2009

2008 dilalui dngan rasa syukur yang luar biasa. Dimana ada kesempatan untuk lebih memuaskan hobby berkegiatan di alam bebas.memasuki tahun 2009 dari jauh hari sudah terbayang keinginan untuk melanjutkan hobby ini walau banyak halangan yg merintang….kebetulan sekali pada awal tahun jatuh pada bulan SURA pada kalender jawa, dimana kayanya pas banget kalo pendakian difokuskan ke gunung lawu di perbatasan jateng – jatim. Alasan utamanya sebenarnya cukup sederhana karena pada waktu bulan suro selain ramai dikunjungi peziarah serta banyak orang yang berjualan diatas sana…tentunya akan sdikit mengurangi beban yang akan dibawa dalam carrier utamanya bahan makanan.




Namun masih dalam tahap rencana!!!!!
Kira kira ama spa aja yak yang mau diajak???…..tapi mengingat pendakian dilakukan pada musim hujan, kayanya condong dengan sedikit orang dech…..biar koordinasinya lebih terkontrol.
Iseng iseng ngobrol sana sini ternyata dapat juga seorng temen dari Jakarta (walau akhirnya gak jadi (ikut)..hikz…hikz… Cry :’(tanggal yang ditentukan sudah pasti sekitar minggu ke 2 atau 3 januari. Dengan personel kurang lebih 4 orang…..seiring waktu, keinginan untuk menambah teman pendakian semakin bertambah…halah…nafsu banget dech pokoknya…..iseng2 buka thread di forum kali aja bisa nambah 2 orang aja..eehhhh lah koq malah tambah banyak yang ikut….gdubrakkk…piye

Cat Per Baksos Gappala



Bismillah.
Agustus 2008
“Ding”
Bunyi yang berasal dari komputerku. Itu tandanya ada message alias pesan dari YM alias Yahoo Messenger yang mesti segera di baca. Kalau tidak, maka akan terjadi hal hal yang tidak diinginkan. Seperti yang telah terjadi pada orang orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa. Huh Hah???
Lho kok jadi itu, bukan denk, tulisan yang diatas salah. Intinya ada message yang masuk ke YM aal.
“Ow…undangan conference temen temen gappala niy”


Tanpa banyak basa basi, al langsung ikutan join aja.
Sudah terpambang beberapa nama nama yang lumayan familiar sama aal.
Ah, namanya tidak usah di sebutkan, tar mereka pada nyengar nyengir kepedean lagi. Secara ngarep banget gitu namanya ada di catper ini. Haha……
“bak buk plentang plentong”…


Ah singkatnya siy kek gitu aja conferencenya. Note : itu bahasa apa ya??? Ada yang bisa translate??? Bentar, al mo minta wangsit dulu dari mbah soso, capa tau dia bisa translate tuw kalimat ke dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Bentar ya……
“ZZZZzzzzZZZZzzzz”
 
Site Support : Komunitas Archive Gappala | Komunitas Petualang Indonesia
Copyright © 2013. Gappala Archive Mode - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Gappala
Proudly powered by Blogger